The Moment to Support Garuda Muda in This Extraordinary Land, Myanmar

MYR7

at Schwedagon Pagoda

Finally kembali menulis setelah kemarin-kemarin gak sempet melanjutkan cerita perjalanan gw dikarenakan sibuknya pekerjaan dikantor dan diluar kantor. Maklum gak boleh nolak rejeki katanya. :)) Selain itu penyakit-penyakit seperti iritasi mata dan kesemutan jempol ditangan kanan masih terus hinggap di gw tapi bukan berarti menghalangi gw untuk terus menulis. Mudah-mudahan cepet sembuh ya Allah. AMIN! Despite all of the distraction, I really thrilled to share my story for this trip. Perjalanan yang berlangsung di bulan October 2014. Seharusnya gw yang akan mendukung dengan teman-teman (MI) Milanisti Indonesia 6 hari dari 11 – 16 Oct 2014 tapi nyatanya gw harus dateng ke acara perkawinan saudara gw di tanggal 12 Oct dan baru nyusul join teman-teman yang udah di Myanmar untuk support Garuda Muda di AFC Championship U19 2014. So here’s my story begin.

Gw berangkat di hari senin pagi-pagi buta udah sampe Soetta dan siap melakukan perjalanan ke Myanmar yang akan transit dulu di Don Mueang International Airport, Thailand. Gw nunggu di Starbucks sampe jam setengah 4 sore, main hape, ngecharge, baca buku dan melakukan hal yang sama berulang-ulang. Ternyata menjadi solo traveler seru juga. Karena gw suka juga melakukan hal apapun sendirian. Gw duduk didekat jendela dan melihat pemandangan pesawat berjejer yang parkir dengan rapihnya sambil seruput Ice coffee latte gw. Entah beberapa jam kemudian, ternyata tempat gw duduk menjadi transit buat orang-orang juga yang pengen makan, minum dan nge-charge sebentar. Awkward sih karena tempat duduk yang lainnya masih ada yang sepi. HAHA but it’s ok.

MYR62

my fav ice latte

MYR63

stranger no.1

MYR64

stranger no.2

Mendekati jam boarding, gw buru-buru ke gate dan duduk di pesawat. Sama halnya kaya di Starbucks. Kejadian absurd terjadi lagi di pesawat. Gw duduk bersebelahan dengan cowok yang sudah berumur 30’an dan gw pinjem pulpen sama dia buat isi kertas imigrasi. Gak lama dia ngajak ngobrol terus sampe gw gak ada waktu tidur di pesawat. Untung perjalanan cuma 1 jam dari Bangkok ke Yangon. Pas liat tulisan bandara Yangon. I’m arrived here eventually! So excited.

MYR1

at RGN

Selain gw mau dukung Garuda Muda, gw juga seneng ngedatengin tempat yang belum pernah gw kunjungi sebelumnya. Gw penasaran dengan segala kebudayaan di negara ini. Setelah melupakan segala hal yang membingungkan, si orang Korea ini terus ngikutin gw di antrian imigrasi. Sampe gw dijemput orang hotel di bandara juga dia nanya terus gw tinggal dimana. Saya takut ya~. Jadi si orang Korea ini emang udah berkerja lama di negara ini jadi dia kayanya pengen tau banget gw stay di hotel mana. Gw menjauh terus deh mendingan dan akhirnya gw dan beberapa turis cewek-cewek dari Jerman yang nginep satu hotel sama gw udah siap dan sesampai diluar bandara gw lihat ada banyak burung berterbangan. Terlihat seperti burung gagak hitam rame sekaliiiii. Hope that will be a good sign.

MYR2

gagak day

Lalu gw melihat sekitar banyak orang-orang khususnya laki menggunakan sarung dan perempuan menggunakan bedak yang tebal di pipi mereka. What an unique tradition. Kalau kita lihat dikiri kanan jalan banyak hal yang sama seperti di Indonesia. Macet, street market dan tata kota yang cukup crowded dimana-mana. Yang menarik perhatian gw adalah pagoda yang bertebaran, itu adalah salah satu keunggulan di Myanmar.

MYR65

Inya Lake

Dan pada akhirnya sampe juga di hotel Mother Land Inn 2. Tiba di hotel udah malam dan melihat yang lain teman-teman Milanisti (Toel, Yudi, Ricoes, Danar, Arrival, Koh Aliong dan Ibu Sumi) ada di lobby dan gw seneng melihat mereka, karena gw gak akan lost in this country anymore. Hotelyang berada di dekat pelabuhan dan letaknya seperti di jalan Tanjung Priok karena banyak Megatron (Truk besar) yang lewat malam-malam. Hahaha. Entah mengapa walaupun hotelnya biasa aja dan khusus backpacker, malah banyak banget turis yang memilih tempat ini. Setelah tau ternyata disini mempunyai karyawan-karyawan yang baik dan ramah dan cukup nyaman dengan harga yang terjangkau. Good place for backpackers! Simple, a nice breakfast, clean towels and a super friendly staff. The average price for a room in yangon is 30$. I would really recommend this place. They speak good English and help you with booking bus trips or hotel reservations.

MYR

at lobby MI2

MYR67 MYR66

Malam-malam gw penasaran mau buru-buru ke Shwedagon Pagoda ditemenin sama Yudi dan bang Toel. Karena rencana Yudi mau cari snowball disana dan bang Toel emang mau nemenin gw jalan-jalan karena mikir takut besok gak ada waktu lagi untuk explore tempat-tempat bersejarah di Yangon. Harga disini kursnya kurang lebih sama harganya kaya di Indonesia. Naik taksi sekitar 30-50ribuan tergantung jago-jagonya kita menawar dan nasi goreng disini punya juga harganya normal 20ribuan dalam rupiah. Sesampai di Shwedagon gw langsung merinding melihat beberapa Pagoda yang dibaluti dengan emas. Foreigners have to pay to get stickers to enter almost every where. So beautiful sceneries along Shwedagon Pagoda. Keliling-keling dan foto-foto wajib banget disini. Gw melihat selain turis yang banyak tetapi banyak juga orang yang datang khusus untuk berdoa. For everyone who’s always asked me about the history of Pagoda in Myanmar. This is one of the story. Shwedagon Pagoda being the largest golden monument on earth with 99 meters in height. The origin of of Shwedagon Pagoda materialized in brilliant epoch in Buddhist history over 2600 years ago. In India, Prince Siddharta had just attained Buddhahood when he was visited by two brothers Tapusa and Bhallika, merchants from Myanmar who offered a gift of honey cakes. In return, the Buddha personally removed eight hairs from his head and gave these to the two brothers for enshrinement in their native town of Okkalapa, which is now the City of Yangon. Beautiful day time and amazing at night. You guys must visit. So grateful that I can see this beautiful things.

MYR3MYR5MYR4

MYR12 MYR21 MYR11 MYR10 MYR9 MYR6 MYR8

Besoknya hari selasa tanggal 14 Oct 2014 saatnya menonton dan kembali mendukung Garuda Muda di Naypyitaw. Walaupun hasil skor terakhir Indonesia gak akan bisa lolos ke perempat final karena dua pertandingan sebelumnya kalah. Pertandingan pertama melawan Uzbekistan kalah 1:3, kemudian melawan Australia kalah lagi 0:1. Apapaun hasil terakhir, kita termasuk anak-anak MI yang tersisa di Myanmar akan terus menonton dan menemani Garuda Muda sampai akhir pertandingan. Awalnya setelah kita sarapan di hotel kita ke pasar yang cukup terkenal di Yangon yaitu Bogyoke Aung San Market untuk membeli beberapa oleh-oleh dan keperluan temen-temen lainnya. Disini terkenal dengan berbagai macam bebatuan jadi gw beli gelang murah dengan model batu-batu gitu. Mayan lah mama pasti seneng dapet gelang dan kalung itu dari gw. Haha. It’s one of place that travelers can go and stroll around especially if you like art and craft, jewelry and sarong. This is a true place that can get everything you want. Setiap ke negara mana pun gw akan selalu mengoleksi tempelan kulkas atau snowball dari negara tersebut. Karena disini snowball gak ada jadi gw beli tempelan kulkas. Jangan lupa untuk selalu menawar ya kalo ada dipasar. Penting itu. Haha.

MYR68

my breakfast at MI2

MYR53

MYR13 MYR16

Dari situ kita langsung menuju ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk menunggu shuttle bus dan bareng-bareng menuju ke Naypyitaw bersama orang-orang KBRI dan beberapa turis Indonesia yang memang niat ikut untuk mendukung Garuda Muda melawan UAE (United Arab Emirates) yang akan dimulai pertandingannya jam setengah 7 malam. Perbedaan waktu hanya mundur setengah jam dari Indonesia.

MYR15 MYR17 MYR14

Perjalanan yang dibutuhkan menggunakan jalan darat dari yangon ke Naypyitaw kurang lebih sekitar 6 jam. Cukup lama dan membosankan selama di bus, karena gak ada colokan dan fasilitas bus yang seadanya. Sampai di Naypyitaw beda banget kotanya walaupun agak gelap tapi gw bisa liat tata kota disini terlihat baru dan rapih.

MYR34 MYR22

Ibukota Myanmar sekarang berada di kota ini dikarenakan semua pemerintah sudah tinggal dan berada disini. Untuk lebih detail soal pemerintahan yang terjadi di Myanmar lebih baik tanya Mbah Google aja ya, gw gak mau membuat persepsi sendiri. *smile* Sesampai di Stadion Wunna Theikdi Sport kita semua langsung ngibrit cari bang Azis yang memang sudah duluan disana anak MI yang sekaligus pencari berita juga. Kita semua anak-anak MI langsung cari lapak dibelakang gawang dan menggelar bendera Indonesia yang sangat besar bersama bendera yang bertuliskan “Forza Indonesia”. Merinding dan salut banget sama temen-temen Milanisti Indonesia yang sangat cinta dengan Indonesia selain mencintai klub AC Milan. Gw bantu untuk menarik bendera dan lain-lainnya. Abis itu gw ngechants bareng dengan temen-temen yang lain. Cewek yang ikut tour ini cuma gw dan Ibu Sumi suaminya Koh Aliong. Gw gak merasa terbebani karena gw senang traveling jadi gw tetep enjoy dengan mereka semua.

MYR24 MYR23 MYR25 MYR26 MYR27 MYR29 MYR30 MYR32 MYR33 MYR35

Again kita kalah dan skor akhir kita 1:4. Sedih sih pasti tapi mau gimana lagi mungkin Garuda muda kita kelelahan setelah tour Eropa langsung hajar di AFC ini. Mungkin kedepannya harus agak lebih diperhatikan jadwal-jadwal pertandingan mereka biar mereka tidak terlalu lelah bermainnya. Pulangnya kita menunggu di dekat pintu keluar para pemain yang akan menaiki busnya. Kita disitu ketemu banyak pemain-pemain dan terus memberikan support supaya mereka bisa terus semangat. Terakhirnya cukup banyak wartawan dari Indonesia yang mencari berita dan mewawancarai Indra Sjafri yang saat itu masih menjadi pelatih U-19. Bang Toel yang cukup terkenal di Milanisti Indonesia juga banyak menjadi incaran para wartawan, ternyata gw pun juga. HAHA!

MYR28

on news

Setelah dari situ kita naik bus kita kembali dan menginap sehari dikota yang bersih ini di Hotel Oattara Thiri. Great staff, who are always spot-on, very comfortable and spacious rooms, a good restaurant and really fast Internet speed makes this hotel an excellent choice. Kita yang belum makan dari siang di KBRI sampe hotel langsung kelaparan dan makan dulu di hotel.

MYR52

Malamnya kita bermain billiard yang disediakan hotel. Main se-game tapi lama banget kelarnya kebanyakan ketawanya gw, Yudi, Danar dan bang Arrival. Kebesokannya after sarapan kita foto-foto disekitar Oattara Thiri Hotel dulu karena merasa senang banget, sebelumnya yang nginep di hotel Motherland Inn seperti bintang 2 sedangkan ini berasa di hotel bintang 5. Haha noraknyaaa.

MYR31

MYR55 MYR57 MYR42

Dari situ kita menuju ke terminal untuk mencari bus untuk kembali ke Yangon. Sesampai bus Elite nama busnya. Senengnya bukan main, karena AC busnya dingin, ada colokan, dapet kopi dan snack. Fasilitas yang cukup bagus daripada bus yang sebelumnya. *peace*.

MYR58 MYR38

Kita sempet berhenti di tempat perbehentian sementara untuk buang air kecil atau makan-makan dulu. Beberapa ada yang makan, gw cuma makan Ice Cream aja cukup.

MYR37 MYR36

Di terminal Yangon hari sudah malam dan tempatnya sangat full dengan rakyat dan banyak yang nawarin taksi. Kita cari taksi dengan harga murah dulu dan abis itu kita kembali lagi ke Motherland Inn 2. Back to basic guys. Seneng sih disini karena orang-orangnya ramah jadi seneng banget ketemu mereka lagi. Karena ini malam terakhir kita di Myanmar jadi gw, Yudi, Danar dan Ricoes jalan-jalan malam. Cari makan di sekitar China Town. gw pun sempet mampir foto-foto didepan Sule Pagoda dan sekitarnya. Makanan dan jajanan pinggir jalan gw cobain dan hampir sama dengan yang kaya di Indonesia, beti-lah ya 11-12. Setelah itu kita tetep usaha cari tourist spot untuk mengambil gambar atau background Sule Pagoda dari atas jembatan penyebrangan. The center of Yangon, Sule Pagoda. All of the nation’s distance measurement starts from this zero-point. Pulangnya kita masih nongkrong dan ngobrol-ngobrol didepan lobby hotel dengan yang lainnya.

MYR40MYR54 MYR56 MYR43 MYR46

Kebesokannya tak terasa udah harus pulang. Sayang banget gw gak bisa menyelusuri Myanmar lebih dalam. Padahal gw pengen ke Inya Lake, Mandalay, Bagan dan kota-kota terkenal lainnya di Myanmar. And yet I really had so much fun time and grateful to explored this country with their amazing Pagoda.

MYR61

Legend, Aung San Suu Kyi

MYR48 MYR49

Advertisements

4 thoughts on “The Moment to Support Garuda Muda in This Extraordinary Land, Myanmar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s